Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 November 2014

Kata Lain 'Gentle'


Aku lagi mandangin bulan nih. Kamu tau gak kenapa aku mandangin bulan? Masa sih kamu ga tau? oia juga sih, kamu kan orangnya ga peka yaah. Eh ga peka atau emang dasarnya cuek? Ah gatau juga sih aku sebenernya. Aku gaboleh suudzon gitu ke kamu, maaf ya.

Aku mandangin bulan itu ibarat aku sama kamu..

Aku selalu mandangin kamu tauu. Kamu nya aja yang gak tau. Eh kayaknya kamu juga tau deh, buktinya aku juga sering mergokin kamu lagi mandangin aku. Aku tau, kamu juga suka kan sama aku. Apa aku Cuma GR? Ah ga mungkin lah. eh tapi mungkin juga sih. Ah tau lah.

Kita aja belom saling kenal, cuma sering ketemu aja di tempat kerjaan, mana mungkin udah timbul perasaan, eh tapi yang namanya perasaan kan bisa aja datang mendadak. Iya juga sih.

Bukannya aku ga gentle. Ga nyamperin kamu, terus ngajakin kamu kenalan. Aku bukan orang yang cemen. Buktinya aku bisa nahan ga kenalan sama kamu, ini contoh perbuatan gentle aku loh. Aku kan udah punya perempuan. Oia, kamu gatau yah. Nanti aku kasih tau tulisan ini deh biar kamu tau.

Udah dulu ya, aku gamau kebanyakan mandangin bulan, aku lagi dinner nih, lagi di suapin, sama perempuan aku tentunya. Udah dulu ya, cuy.





Baca juga: Ayam tak lagi berkokok

Baca selengkapnya

Selasa, 10 Juni 2014

Belum Ada Judul

Belum Ada Judul

Kicauan burung-burung jalak terdengar jelas, walaupun telingaku tersumpal gumpalan headset.
Gerbong kereta tiba-tiba berhenti. Aku tidak ingat apa-apa. Ketika bangun, banyak sekali yang mengelilingiku. Kenapa banyak makhluk tembus pandang di sekelilingku? Aku bingung. Kenapa juga banyak sekali orang di pinggiran rel kereta itu.
Kucoba melangkahkan kaki untuk mendekat ke kerumunan. Namun, wuuussssshhh.. cepat sekali aku sampai di kerumunan. ternyata aku terbang. Wohoo.. aku senang sekali bisa terbang. Namun ketika ku lihat ketengah rerumunan masyarakat. Wajahku terasa aneh. Mayat-mayat berjejer panjang disamping gerbong terbalik. Kulihat banyak sekali air mata berjatuhan disekitar rel. Mengerikan sekali.

Wajah tampan itu tak asing lagi bagiku, itu mas Randy, suamiku. Lantas, apa yang dilakukannya disini? Ku diam, coba menerka-nerka. Tangisnya jatuh begitu lebat. Ku coba pelan berjalan menuju dia. Namun, wuuussssshhh.. Lagi-lagi aku terbang. Kini, ku mengetahui penyebab tangis mas randy pecah. Tapi, rasa ku mulai tak senang. Melihat wanita yang sering aku lihat di cermin. Kini berbaring disamping rel. Aku meninggal?! Kucoba menampar pipi kanan ku, tapi tak terasa apapun. Aku tidak percaya. Kucoba menghusap air mata mas randy, tapi tanganku hanya bagai angin yang berhembus begitu saja. Kucoba lihat kebawah. Kaki ku tak menempel tanah. Ternyata benar. Aku sudah meninggal.

Aku ingin menumpahkan tangis, tapi tak bisa. “Arghh!!!” kesal sekali perasaanku. Jadi, kereta yang aku tumpangi tadi mengalami kecelakaan? Ceroboh sekali masinis kereta ini! ku hampiri bagian depan kereta. Ingin memaki seorang masinis kereta api. Tapi hampa. Ruang kemudi itu kosong. “cari siapa neng?” sebuah wujud sejenisku tiba-tiba tembus dari gerbong kedua. Wajahnya terlihat lusuh. tua. “cari masinis yang yang mengemudikan kereta ini! bangsat! Bawa kereta saja tidak becus! Bikin banyak nyawa melayang” ku keluarkan unek di otak. Tak peduli omongku kasar di depan orang tua. “masinis itu adalah saya, maafkan saya neng. Ini bukan salah saya. Ketika tadi mau belok. Ada angin yang sangat kencang dari arah kanan” “halah! Alasan saja! Lihat suami sa...” belum sempat selesai bicara, kulihat suamiku menggotong tubuhku kedalam mobilnya. Ku kejar dia.

Di dalam mobil, tangis mas randy makin menjadi. Tapi tak keluar air, mungkin habis. Kurasakan kecintaan mas Randy kepada ku sangat amat besar. Tak tega ku melihatnya. setiap 5 detik mas Randy selalu melihat jasadku yang tergeletak di jok belakang. Tiba-tiba mobil melaju dengan sangat. “Mas! Eling Mas!!!” ku coba teriak di telinga mas Randy. Namun terlambat. Mobil mas Randy sudah menabrak pohon besar di pertigaan jalan. Apa yang coba mas Randy lakukan.


Kini dijalanan sepi. Tak henti ku mengeluarkan suara tangis melihat tubuh mas randy terhimpit tak berdaya diantara setir dan jok. Pikiran ku terus menerawang apa sebenarnya ini.
“Sttt...” suara menggoda dibalik pohon besar di depan. Ku coba menghampiri. Ternyata kamu. Mas randy. Tak habis pikir aku dibuatnya.

Mas randy yang biasanya berpakaian rapi. Kini badan nya tembus pandang. Tak ada dasi yang melilit lehernya. Aku masih termanga. “Dor!!!” mas randy mencoba mengagetkanku, kini ia bisa bicara denganku. Aku sadar, mas randy telah meninggal.

“Kamu jahat! Kamu gak ada buat aku.” Tiba-tiba mas Randy marah sambil tersenyum kepadaku.
“Aku jahat kenapa mas? Aku selalu ada buat mas”
“Bohong. Buktinya kamu ninggalin aku”
“Aku juga gak mau kaya gini mas. Aku sayang sama mas.”
“Aku lebih sayang sama kamu! Aku gak bisa hidup tanpa kamu. Kamu kira, mobil ini kenapa bisa nabrak?” mas randy menjelaskan “karena aku sengaja, biar bisa bareng kamu (lagi). ”
“Tapi mas..”
“Udah pokoknya kita harus selalu bersama. Walaupun mati, Kita harus mati bersama”

Senyum mas randy menghilangkan gumpalan-gumpalan pertanyaan dalam otak. Ku tak mau berdebat. Yang terjadi biarlah terjadi. Semua ini sudah takdir.

Ku gandeng tangan mas randy. Kita terbang bersama-sama keatas langit. Menuju tempat terbaik... Surga.

Foto dari sini

Baca selengkapnya

Sabtu, 07 Juni 2014

Udin Centong & Ujang Karung

Udin Centong & Ujang Karung

Ini adalah kisah duo sejoli, kisah persahabatan yang sangat penuh arti antara Udin centong dan Ujang karung.

Mereka bersahabat sudah lama sekali, yaitu 1 abad sebelum masehi. Mereka selalu berbagi dalam suka ataupun duka. Pokoknya, setiap keadaan apapun lah. Pernah suatu ketika mereka memakai satu jamban berdua karena sakit perut berbarengan abis ngerujak.

*di jamban*
“gue mau keluar nih, geseran” si ujang karung menggeser pantat udin dengan pantatnya
“awas awas !  gantian! Gue mau keluar nih” si udin sudah tidak tahan, namun si ujang juga lagi tanggung
Akhirnya si udin menendang ujang yang lagi jongkok sampai tai ujang bertebaran dimana-mana. Si ujang tidak marah, mereka malah main peper-peperan tai di jamban.

***

Si Udin mempunyai pacar, Yati Marpuad. Mereka udah lama pacaran, hampir 2 minggu lebih 1jam. Mereka layaknya ‘si buta dari gua hantu & Kliwon’ . kalau pacaran, Yati ga mau digandeng, tapi nemplok dipundaknya Udin.


Sementara Udin yang sedang giat-giatnya pacaran, si Ujang malah galau karena teman nya sudah susah diajak main.

“kenapa si udin tega ya sama gw?” si ujang curhat kepada laron di dekat bohlam. Tapi sama sekali tidak ada jawaban dari laron tersebut. Ujang pun kesal, akhirnya dimatikan bohlam tersebut supaya laron-laron itu pada pergi. Dia bingung mau curhat sama siapa lagi. Akhirnya dia ke kebon untuk curhat dengan nyamuk. Namun sial, ketika sampai di kebon, si ujang malah ngeliat pocong. Ujang pingsan. Sekitar seminggu. Sebelum akhirnya bangun karna ketiban pohon pisang yang rubuh.



Karena laper, Ujang langsung menuju rumah dengan gaya ulet bulu feat suster ngesot. 

Sampai dirumah, Ujang langsung bebersih seluruh badan. Habis mandi ujang langsung ngopi di teras rumah. Tapi sial, Ujang malah ngeliat Udin dan Yati sedang ciuman di motor.

“sialan nih yati!” si Ujang memang selalu sirik dengan Yati, karena waktu Udin yang biasanya buat dia, sekarang malah jadi buat Yati.
Ujang dongkol, dia pun memanjat pohon mangga untuk mencari ketenangan. namun sampai diatas, dia malah di antup tawon. Si Ujang jatuh dari ketinggian 30 meter, tulang rusuknya melengkung, terpaksa dirawat di pengobatan tradisional pak haji bolot.

Udin pun akhirnya tidak tega setiap hari melihat sahabatnya dikerubunin laler. Udin pun membawakan makanan buat Ujang setiap hari. Bahkan udin selalu nungguin Ujang sampai tertidur disamping Ujang. Akhirnya dia sadar, persahabatan lebih penting dari cinta.


Foto dari sini

Baca selengkapnya

Senin, 26 Mei 2014

Menuai Asa

Aku menatap kembaranku pada cermin bertepian pink kecil, tiba-tiba tangan seorang lelaki menghempaskan benda itu hingga berserakan di lantai sepi. Kaget aku dibuatnya. Ternyata itu kamu.

Lelaki sang pencari nafkah di keluargaku, kini raut wajahnya terlihat merah menyala. Aku tidak tahu apa yang bisa membuatmu marah seperti itu.

“Ada apa mas?” aku menghernyitkan pelipis

Mulutmu diam tak bersuara. Wajahmu yang terlihat seram, bungkam. Seraya ingin menghentak kepalan tanganmu ke kepalaku, tetapi tak sanggup.

Aku ambil segelas air jernih untuk menenangkan pikiranmu yang terlihat kacau, lagi-lagi hempasan tangan itu membuat gelas kaca yang aku pegang jatuh kelantai tak berdosa.

Kamu keluar rumah, segera melajukan mobilmu lagi yang belum sempat dingin. Aku bingung tak tau harus berbuat apa, kini hanya melihat mobilmu melaju dengan sangat. Semoga tak apa.

***

Dua hari kamu tak pulang kerumah, terniang sekali di kepalaku apa yang sebenarnya menjadikanmu seperti ini. di depan pintu rumah mertua, aku berdiam selama beberapa detik mengumpulkan nyali, sebelum memberanikan untuk mengetuk pintu. Mertuaku membuka.

Ketika mulutku hendak mengeluarkan kata, mertuaku mengiris pembicaraan. Terlihat serius wajahnya. Entah.

 “Dua hari ini suamimu disini, menangis setiap malam memikirkan kamu yang berselingkuh dengan orang lain. Dua hari, suamimu menunggu kamu untuk meminta maaf kepadanya. Tapi selama dua hari itu juga kamu tidak datang” mertuaku murka, menjelaskan apa yang terjadi. Wajahnya sedikit padam. Kesal.

Ketika mulutku ingin berucap, tiba-tiba. JDARRR!.  Keras sekali pintu itu menghentak untuk ukuran ibu tua berdaster gombrong. Mungkin amarah yang melakukannya.

Pintu itu tertutup, aku terus memohon agar untuk dibukakan. Namun tak ada arti.

Ku dengar suara isak tangis mertua di balik daun pintu, aku tak tega. “PERGI KAMU, TAK SUDI RUMAHKU DIINJAK WANITA YANG TELAH MENYAKITI HATI ANAKKU!!!”

Aku terdiam. jantung serasa henti berdetak. Paru-paru terasa sesak. Kantung mataku tak kuat menahan tangis yang memaksa jatuh. Tubuhku sekejap lemas, jatuh dilantai kayu mertua. Kosong.

Ohh tuhan, ini kah yang dinamakan asa?
Maafkan aku tuhan.. telah memainkan cinta yang agung hingga binasa

Ku berjalan. Jalanku gontai melepas rumah mertua. Kepalaku kosong. Entah apa yang telah aku perbuat. Butir-butir air berjatuhan di jalan. Bukan hujan, melainkan tangis penyesalanku. Kenapa aku bisa tega mengkhianati suamiku. ARRRGH!! . Kulemparkan sepatu high heels sepuluh senti-ku ke tiang yang beraliran listrik. End.


Foto dari sini
Baca selengkapnya

Selasa, 13 Mei 2014

Kentang!

Sepatu yang aku pakai, langsung aku lempar ke arah wajahnya yang memelas meminta maaf kepadaku.

Mukanya polos tanpa pandangan terarah
“aku akan bertanggung jawab sar.. percayalah padaku.”


Di taman kampus yang rindang dengan pohon-pohon yang cukup lebat dan suasananya yang sepi, aku melampiaskankan kemarahanku kepada Beni.

Beni adalah pacarku sejak setengah tahun yang lalu. kami baru saja merayakan hari jadian kami yang ke 6 bulan 2hari yang lalu di puncak.

“Apa yang harus aku katakan pada mama ku yankk..”
“Kalau aku bilang aku hamil pasti aku langsung diusir dari rumah!!”


Beni terdiam.


Aku hamil oleh beni pacarku sendiri..
Aku termakan manisnya cinta saat di villa puncak kemarin.


apa yang harus aku katakan pada mamaku..
mama yang selalu menasihatiku setiap hari..
apa reaksinya kalau tau aku hamil..
mama pasti merasa omongannya tidak pernah aku dengar..


“Bagaimana yank, kamu jangan diam terus!”
“aku sudah bilang, aku akan bertanggung jawab!”
“tapi bagaimana caranya aku bilang kepada mamaku?”


Beni lagi-lagi terdiam.


Tiba-tiba tangan Beni merangkul tubuhku..
tangannya seperti mentari pagi yang selalu menghangatkan badan.


Aku selalu sangat nyaman ketika tangan Beni mulai memelukku, karena saat seperti ini aku merasa dihargai sebagai kekasihnya
dipeluk, dibuai dengan penuh kasih sayang.

Aku sungguh mencintai Beni...

Aku mulai tenang..
Beni mengusap air mataku yang telah terjatuh terlalu banyak.
Aku menatap mata Beni..
Mata yang tadinya kosong kini seperti terisi keyakinan hati yang mantab.

 “kita akan bilang bersama-sama yang sebenarnya terjadi ke mamah kamu” matanya penuh kepastian.
“sekarang rapihin muka dulu tuh, udah kaya hulk udah tua :p” Beni mencoba bercanda.

Aku mengambil kaca di tasku, dan benar sekali, wajahku seperti neneknya nenek sihir. Hehe.
dengan mataku yang sembab dan sedikit bengkak, aku dan Beni akan memberanikan diri menghadap mama dengan mengatakan yang sebenarnya
aku dan Beni masuk ke dalam mobil dan segera menuju kerumahku...


Foto: Google.com

Baca selengkapnya